
Menerbitkan buku merupakan bagian dari perjalanan penting seorang dosen. Tidak hanya berbagi ilmu, menerbitkan buku juga menjadi salah satu langkah yang perlu ditempuh dosen untuk membangun reputasi dan kariernya di dunia akademik.
Namun sayangnya, aktivitas yang padat di dalam maupun luar kampus sering kali membuat proses penulisan buku terus tertunda. Padahal, semakin cepat dosen menerbitkan buku, maka semakin cepat pula ia bisa meraih kemajuan dalam karier akademiknya. Inilah kenapa, tips menulis buku bagi dosen pemula penting untuk dicoba agar buku dosen bisa cepat selesai dan diterbitkan.
Daftar isi
Toggle10 Tips Menulis Buku bagi Dosen Pemula agar Cepat Selesai dan Diterbitkan
Untuk itu, dalam artikel kali ini kita akan membahas berbagai tips menulis buku bagi dosen pemula. Jika kamu dosen, cobalah menerapkan tips-tips berikut supaya peluang bukumu cepat terselesaikan dan diterbitkan semakin besar.
Artikel yang sesuai:
Kenapa Penting bagi Dosen untuk Menerbitkan Buku?
Sebelum membahas tips menulis buku bagi dosen agar cepat selesai, mari kita pahami terlebih dahulu alasan kenapa menerbitkan buku bagi dosen itu penting!
1. Bentuk kontribusi dosen dalam ilmu pengetahuan
Bagi dosen, menerbitkan buku bukanlah sekadar aktivitas tambahan, melainkan bentuk kontribusi dosen dalam menyebarluaskan ilmu pengetahuan. Dengan menerbitkan buku khususnya buku hasil konversi KTI, tidak hanya kalangan akademisi seperti mahasiswa atau peneliti saja, masyarakat umum juga ikut merasakan dampak dari ilmu pengetahuan yang dosen miliki.
2. Meningkatkan reputasi dan kredibilitas dosen
Menerbitkan buku juga penting bagi dosen untuk meningkatkan reputasi dan kredibilitasnya di dunia akademik. Hal ini dikarenakan buku merupakan jenis karya tulis yang berisikan pembahasan lengkap dan mendalam mengenai suatu bidang. Ini artinya, dosen yang sudah pernah menerbitkan buku ber-ISBN akan dinilai profesional dan diakui keahliannya di bidang tersebut.
3. Mengembangkan karier dosen
Selain melakukan penelitian, menerbitkan buku juga menjadi bagian dari langkah yang perlu dosen tempuh untuk mengembangkan kariernya di dunia akademik.
Menerbitkan buku ber-ISBN bisa menambah angka kredit poin dosen hingga 40 poin. Poin ini nantinya akan diakumulasikan hingga mencapai jumlah tertentu sesuai syarat untuk pengajuan pangkat akademik dosen.
4. Mempermudah pembelajaran di kelas
Selanjutnya, menerbitkan buku juga penting untuk mempermudah proses pembelajaran di kelas. Dibandingkan hanya mendengarkan atau mencatat penjelasan dosen yang tentu akan kurang maksimal, mahasiswa bisa memiliki pegangan atau bahan bacaan untuk dipelajari lebih jauh jika dosen menerbitkan buku ajar.
5. Membangun kedekatan dengan mahasiswa
Terakhir, menerbitkan buku juga penting untuk membangun hubungan yang akrab antara dosen dengan mahasiswa. Adanya buku membuat interaksi dosen dengan mahasiswa jauh lebih mudah.
Ketika mahasiswa bingung atau ingin menanyakan lebih lanjut tentang isi buku, dosen bisa dengan mudah menjawab karena buku tersebut ia sendiri yang menulisnya.
Tips Menulis Buku bagi Dosen Pemula

Berikut ini sepuluh tips yang bisa dosen pemula terapkan dalam menulis buku agar cepat selesai dan diterbitkan:
1. Tentukan Tujuan menerbitkan buku
Tips pertama agar buku yang dosen tulis bisa cepat selesai adalah menentukan tujuan menerbitkan bukunya untuk apa. Tujuan menerbitkan buku harus ditetapkan sejak awal dengan spesifik dan jelas.
Sebab, selama proses penulisan buku tidak menutup kemungkinan akan ada banyak hal yang kamu bingungkan. Di sinilah tujuan berperan penting untuk membuatmu tetap fokus menulis meski banyak tantangan dan gangguan yang dihadapi.
Kamu perlu menentukan apakah ingin menulis buku ajar, monograf, atau buku populer. Langkah ini penting untuk mempermudah proses penulisan karena ketiga jenis buku tersebut memiliki gaya bahasa, kedalaman pembahasan, dan sistematika penulisan yang berbeda.
2. Tetapkan target menulis harian
Jika ingin bukumu cepat selesai, tips berikutnya adalah membuat target menulis harian secara realistis agar mudah tercapai. Menetapkan target terlalu tinggi cenderung mudah membuat menyerah bahkan sebelum eksekusi karena dirasa berat atau tidak mungkin tercapai. Menetapkan target terlalu rendah juga tidak baik karena bisa membuat progres menjadi lebih lambat.
Lalu, seperti apa realistisnya dalam menetapkan target menulis harian? Misalnya, cobalah luangkan waktu satu sampai dua jam per hari untuk menulis. Dalam waktu tersebut, setidaknya kamu bisa menghasilkan 500 kata per hari.
Langkah tersebut mungkin terlihat kecil. Namun, akan membawa progres yang besar jika dilakukan secara konsisten. Menulis jumlah kata yang sedikit tetapi konsisten justru lebih baik dibandingkan menulis dalam jumlah kata yang banyak tetapi hanya dilakukan saat sedang mood atau memiliki waktu luang saja.
3. Buat outline
Tips menulis buku bagi dosen selanjutnya yaitu membuat outline atau kerangka tulisan. Outline merupakan pokok pikiran atau inti tulisan yang disusun secara detail, sistematis, dan terstruktur yang dapat dijadikan sebagai panduan selama proses penulisan.
Membuat outline menjadi salah satu strategi efektif untuk mempercepat proses penulisan buku. Adanya outline memungkinkan kamu terhindar dari pengulangan pembahasan yang dapat menghambat progres.
Pada umumnya, outline buku bisa disusun meliputi bab pendahuluan atau pembuka, lalu diikuti subbab-subbab pembahasan yang lebih rinci, kemudian diakhiri dengan simpulan dan daftar pustaka.
4. Tetapkan menulis sebagai aktivitas harian
Berikutnya, bukumu juga akan cepat selesai jika menulis ditetapkan sebagai aktivitas harian yang rutin dikerjakan. Dengan kata lain, menulis dilakukan tidak hanya ketika kamu memiliki waktu senggang atau disaat mood saja.
Untuk itu, kamu bisa menjadwalkan menulis setiap hari. Misalnya, menulis di pagi hari sebelum berangkat atau malam hari setelah pulang bekerja atau mengajar di kampus. Menulis secara terjadwal setiap hari membantu memberikan kemajuan signifikan terhadap proses penulisan bukumu.
5. Hindari perfeksionis berlebihan
Tips menulis buku bagi dosen pemula selanjutnya ialah menghindari perfeksionisme yang berlebihan. Berusaha menampilkan hasil menulis yang terbaik memang harus, namun bukan berarti tulisan harus terlihat sempurna sejak awal.
Draft awal yang nampak berantakan itu wajar dan tidak perlu langsung dibereskan saat itu juga. Menulis sambil mengedit justru bisa membuat proses penulisan menjadi terhambat.
Jadi, tulislah naskah sampai benar-benar selesai terlebih dahulu. Setelah itu, istirahatkan naskah sejenak sebelum masuk ke tahapan self editing. Pemberian jeda sebelum naskah diedit ini penting untuk memastikan tidak ada ide-ide penting yang tertinggal.
6. Menggunakan referensi
Tips berikutnya agar buku kamu biasa cepat selesai yaitu menggunakan referensi yang sudah ada untuk menulis buku. Gunakan sumber referensi yang relevan dan terpercaya seperti artikel ilmiah, jurnal, hasil penelitian, hingga buku ajar.
Memanfaatkan sumber referensi yang kredibel membantu kamu menulis buku lebih cepat karena tidak perlu lagi mengeluarkan waktu untuk riset sendiri. Meski ditulis dalam waktu yang cepat, hal ini tidak akan mengurangi kualitas bukumu karena sudah disusun berdasarkan pada sumber yang terpercaya.
7. Menggunakan bantuan profesional
Naskah buku yang sudah selesai ditulis tidak bisa langsung diterbitkan. Setelah naskah selesai, naskah masih harus melalui tahapan berikutnya yakni editing naskah, proofreading, pembuatan desain cover, layout, pengurusan ISBN, hingga hak cipta buku.
Jika dikerjakan sendiri saja tentu akan memakan banyak waktu dan energi. Maka, kamu bisa memanfaatkan bantuan tenaga profesional di masing-masing bidang tersebut jika diperlukan atau ingin bukumu cepat terbit.
8. Tetapkan deadline
Berikutnya, menetapkan deadline atau tenggat waktu menulis juga penting untuk memacumu menyelesaikan tulisan dengan cepat. Tanpa batas waktu yang jelas, potensi prokrastinasi atau menunda-nunda pekerjaan akan semakin besar. Alhasil, buku kamu tidak kunjung terselesaikan.
9. Konversi KTI menjadi buku
Mengubah KTI menjadi buku juga menjadi salah satu tips menulis buku bagi dosen pemula agar cepat selesai dan terbit. Dengan mengubah KTI menjadi buku berarti kamu tidak harus menulis naskah dari awal yang mana bisa memakan lebih banyak waktu.
Bahkan, kamu tidak harus mengubah naskah KTI menjadi buku secara mandiri. Jika diperlukan, kamu bisa memanfaatkan jasa konversi KTI menjadi buku yang biasanya menjadi salah satu layanan yang disediakan oleh penerbit.
Jadi, kamu hanya perlu mengirimkan naskah KTI-mu kepada tim penerbit. Nantinya, tim penerbit yang akan merestruktur naskah KTI-mu menjadi naskah buku umum agar mudah dipahami oleh pembaca dari kalangan umum.
10. Memilih jalur penerbitan buku yang tepat
Tips terakhir agar buku yang kamu tulis bisa cepat selesai dan diterbitkan adalah memilih jalur penerbitan yang tepat. Jalur penerbitan buku sendiri terdiri dari tiga jenis, yaitu:
Penerbit buku mayor
Penerbit buku mayor atau disebut juga penerbit buku tradisional merupakan jalur penerbitan buku yang bisa penulis pilih jika ingin bukunya diterbitkan secara gratis.
Namun, penulis harus melewati tahapan kurasi naskah yang sangat ketat dan memakan waktu lama untuk bisa menembus penerbit mayor. Selain itu, penulis juga tidak memiliki kendali terhadap proses penerbitan bukunya. Jika lolos, buku penulis akan disebarluaskan melalui jaringan distribusi dan pemasaran online maupun offline.
Penerbit buku indie
Penerbit buku indie merupakan jalur penerbitan secara mandiri tanpa bantuan penerbit besar. Meski berbayar, naskah buku penulis dapat dipastikan lolos untuk diterbitkan selagi tidak mengandung unsur pelanggaran SARA dan pornografi.
Penerbit indie juga menerbitkan buku penulis dalam waktu yang lebih cepat dibandingkan penerbit mayor. Cocok sekali untuk dosen yang ingin bukunya segera terbit untuk keperluan akademik. Selain itu, penulis masih memiliki kendali para proses penerbitan bukunya di penerbit indie.
Self publishing
Self publishing merupakan jalur penerbitan buku yang dilakukan sendiri oleh penulis. Mulai dari tahap penulisan naskah, editing, desain cover, layout, pengurusan ISBN, hak cipta, pencetakan, hingga distribusi dan pemasaran buku dilakukan sendiri oleh penulis tanpa bantuan penerbit.
Dengan kata lain, memilih jalur self publishing memberikan kebebasan bagi penulis untuk mengontrol seluruh proses penerbitan bukunya.
Namun sebagai dosen, memilih self publishing bisa sangat melelahkan. Sebab di samping harus tetap menjalankan kewajiban sebagai pengajar, dosen juga harus mengatur semua aktivitas penerbitan bukunya sendirian.
Maka, ada baiknya bagi dosen untuk memilih jalur penerbitan melalui penerbit buku indie. Selain prosesnya yang lebih cepat, seluruh proses penerbitan buku akan sepenuhnya dibantu oleh tim penerbit sampai buku benar-benar berhasil terbit ber-ISBN. Dengan begitu bisa menambah angka kredit poin yang berguna sebagai syarat kenaikan pangkat akademik dosen.
Mengemban tugas akademik sambil menulis buku memang bukan hal yang mudah. Diperlukan strategi yang tepat dan efektif dalam manajemen waktu agar dosen tetap bisa menyelesaikan bukunya tanpa membuat tugas akademiknya terbengkalai.
Nah, dengan menerapkan tips menulis buku bagi dosen pemula seperti yang sudah dipaparkan dalam artikel ini, kamu akan lebih mudah dan cepat dalam menyelesaikan naskah bukumu. Dengan begitu, buku kamu pun bisa segera diterbitkan.





