Kenapa Artikel Ditolak Jurnal? Ini 10+ Alasan beserta Solusinya

Kenapa Artikel Ditolak Jurnal? Ini 10+ Alasan beserta Solusinya.jpg

Melakukan publikasi ilmiah ke jurnal, baik jurnal nasional maupun internasional merupakan salah satu kewajiban dosen sebagai wujud pengamalan tridharma perguruan tinggi.

Namun, tidak sedikit dosen yang artikelnya mengalami penolakan karena berbagai faktor penyebab. Hal ini tentu berakibat dosen perlu bekerja dua kali untuk merevisi artikelnya. Nah, sebenarnya apa sih alasan kenapa artikel ditolak jurnal?

Kenapa Artikel Ditolak Jurnal? Ini 10+ Alasan beserta Solusinya

Artikel ini akan mengupas tuntas pembahasan alasan kenapa artikel ditolak jurnal beserta solusi yang bisa dosen, mahasiswa, atau peneliti lakukan jika artikelnya ditolak jurnal. Simak penjelasan selengkapnya berikut ini!

10+ Alasan Kenapa Artikel Ditolak Jurnal

Artikel yang dipublish oleh dosen, mahasiswa, atau peneliti bisa jadi ditolak jurnal karena lebih dari 10 sebab berikut:

1. Kualitas artikel yang rendah

Alasan pertama kenapa artikel ditolak jurnal ialah karena artikel yang dipublish memiliki kualitas yang rendah atau kurang maksimal. Reviewer atau editor tentunya akan memberikan catatan perihal ini.

Maka, yang perlu kamu lakukan adalah segera memeriksa catatan dari reviewer atau editor dan melakukan perbaikan alih-alih marah atau merasa kecewa. Sebab, penolakan adalah hal yang wajar dalam berbagai bidang, termasuk bidang akademik.

Lalu, kenapa sebuah artikel bisa dikatakan memiliki kualitas yang rendah? Artikel berkualitas rendah bisa dikarenakan beberapa hal. Misalnya, data yang disajikan kurang valid atau kurang memadai, metodologi penelitian tidak jelas, analisis data yang lemah, dan lain sebagainya.

Untuk mengetahuinya dengan pasti dan bisa melakukan perbaikan yang sesuai, segeralah periksa catatan dari reviewer atau editor.

2. Format tidak sesuai ketentuan

Alasan secara umum berikutnya yang menyebabkan jurnal ditolak adalah format yang tidak sesuai dengan ketentuan. Setiap pengelola jurnal pada umumnya menetapkan format, pedoman, hingga template untuk artikel-artikel yang dipublikasikan.

Format tersebut tentunya sudah ditetapkan oleh masing-masing jurnal secara mutlak dan menjadi keharusan bagi setiap penulis untuk mematuhinya.

Untuk itu, sebelum menyerahkan jurnal, pastikan periksa terlebih dahulu format, pedoman, atau template yang ditetapkan oleh jurnal agar peluang artikel diterima semakin besar.

3. Persaingan yang terlalu ketat

Alasan lainnya kenapa artikel ditolak jurnal yaitu persaingan yang terlalu ketat. Artikel berisiko ditolak jika jurnal yang dipilih memiliki kualitas yang sangat tinggi.

Yang mana, jurnal berkualitas tinggi sering kali menjadi tujuan para peneliti dari berbagai belahan dunia. Hal ini berarti persaingan akan semakin ketat.

Ketika perilisan volume baru dibuka, maka akan ada lebih banyak penulis yang melakukan submit artikel. Jika yang dibutuhkan 5 artikel baru tetapi yang submit mencapai 50 artikel, maka persaingan menjadi semakin ketat dan hanya artikel paling berkualitas lah yang akan lolos.

Ditolaknya sebuah artikel oleh jurnal bukan berarti kualitasnya buruk atau tidak layak untuk dipublikasikan. Melainkan memang kalah saing dengan artikel lain yang memiliki kualitas lebih tinggi.

Maka, sebagai alternatif solusinya, kamu bisa belajar kembali bagaimana cara memilih jurnal yang tepat dan sesuai kapasitas. Sebagai contoh, kamu tidak harus selalu mempublish artikel di Scopus Q1, melainkan bisa di Scopus Q4.

4. Topik tidak sesuai dengan ruang lingkup jurnal

Setiap pengelola jurnal memiliki fokus atau ruang lingkup jurnal yang berbeda-beda. Ada yang fokus mengelola jurnal kesehatan, jurnal hukum, jurnal keagamaan, dan bidang-bidang keilmuan lainnya.

Nah, hal tersebut bisa menjadi salah satu alasan kenapa artikel ditolak jurnal. Yang mana, artikel yang kamu publish tidak sesuai dengan fokus atau cakupan keilmuan jurnal tersebut.

Oleh sebab itu, setiap penulis perlu memperhatikan kembali kesesuaian ruang lingkup jurnal yang dipilih dengan topik pembahasan dalam artikelnya.

Semakin relevan artikel yang kamu publish, maka semakin besar pula peluang artikelmu diterima jurnal dan hanya mendapatkan sedikit catatan atau revisi.

5. Data yang disajikan kurang memadai

Kelima, alasan kenapa artikel ditolak jurnal yaitu karena data yang disajikan kurang memadai. Dalam artian, data-data yang disajikan dinilai tidak jelas, kurang lengkap, atau penyajiannya yang kurang terstruktur.

Nah, hal tersebut menyebabkan menurunkannya kualitas artikel sehingga risiko artikel ditolak jurnal pun semakin tinggi.

Oleh karenanya, membaca ulang artikel sebelum dipublikasikan merupakan langkah penting bagi setiap penulis. Tujuannya untuk memastikan seluruh data atau informasi disampaikan secara jelas dan terstruktur.

6. Melanggar etika publikasi ilmiah

Alasan keenam kenapa artikel ditolak jurnal ialah terjadi pelanggaran etika publikasi ilmiah, baik dilakukan secara sadar maupun tidak. Misalnya, pemalsuan data atau falsifikasi, plagiarisme, dan lain sebagainya. Jika terbukti melakukan pelanggaran ini, maka sudah pasti artikel akan ditolak.

Itulah mengapa, penting bagi setiap penulis untuk melakukan review secara mandiri dan mengecek similarity index sebelum artikel dipublish. Hal ini untuk memastikan data-data atau informasi yang tersaji benar-benar akurat serta terbebas dari plagiarisme.

7. Penilaian dari reviewer

Penilaian dari reviewer juga turut menentukan diterima atau tidaknya artikel oleh jurnal. Ketika artikel selesai dalam status “in review” lalu mendapatkan penolakan, maka artinya reviewer yang melakukan peer review menilai artikel kurang berkualitas atau tidak sesuai sehingga belum layak dipublikasikan oleh jurnal terkait.

8. Track record penulis kurang memadai

Alasan lainnya kenapa artikel ditolak jurnal yaitu berkaitan dengan rekam jejak penulis yang dinilai kurang memadai. Ini menunjukkan bahwa ada banyak jurnal yang juga memperhatikan terkait rekam jejak penulis yang men-submit artikel.

Rekam jejak yang kurang memadai menyebabkan H-indeks rendah, linearitas penulis tidak memuaskan, dan lain sebagainya sehingga membuat artikel dinilai tidak layak dipublikasikan.

Oleh sebab itu, penting bagi setiap dosen, mahasiswa, atau peneliti untuk membangun reputasi yang baik agar proses publikasi ilmiahnya di masa mendatang bisa berjalan lancar.

9. Penggunaan bahasa yang kurang jelas

Artikel yang ditolak oleh jurnal juga bisa disebabkan karena penggunaan bahasa yang kurang jelas. Misalnya, terlalu banyak typo atau kesalahan penulisan ejaan, tata bahasa yang buruk, hingga kalimat yang tidak efektif sehingga mempersulit reviewer dalam memahami isi artikel. Alhasil, artikel berkemungkinan lebih besar mengalami penolakan.

10. Referensi kurang kredibel

Selanjutnya, referensi yang kurang kredibel juga bisa menjadi salah satu penyebab atau alasan kenapa artikel ditolak jurnal. Misalnya saja, menggunakan sumber referensi yang terlampau lama, jurnal internasional yang kurang, atau tidak relevannya referensi yang digunakan.

11. Penelitian tidak mengandung nilai kebaruan

Nilai kebaruan atau novelty dalam artikel yang dipublikasikan menjadi elemen penting untuk memastikannya mampu memberikan sumbangsih atau kontribusi yang berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Artikel ilmiah yang disusun berdasarkan penelitian yang hanya mengulang penelitian terdahulu tentu berpotensi lebih tinggi ditolak jurnal.

Solusi atau Langkah yang Perlu Dilakukan Jika Artikel Ditolak Jurnal

Kenapa Artikel Ditolak Jurnal? Ini 10+ Alasan beserta Solusinya

Ketika mengalami penolakan oleh jurnal, tidak selalu berarti artikelmu memiliki kualitas yang buruk. Ada kalanya memang tidak sesuai dengan scope jurnal, kalah saing, atau karena alasan lainnya.

Namun yang pasti, penolakan tersebut tidak lantas menjadi alasan terhentinya langkah untuk mempublikasikan artikel ilmiahmu. Langkah-langkah berikut ini bisa kamu lakukan jika artikel yang kamu susun ditolak jurnal:

1. Membaca catatan dari editor atau reviewer

Langkah pertama kali yang perlu kamu lakukan setelah menerima kabar bahwa artikelmu ditolak jurnal adalah membaca catatan dari editor atau reviewer. Dengan membaca catatan tersebut, kamu bisa mengetahui alasan-alasan mengapa artikel ditolak dan poin-poin apa saja yang perlu dilakukan perbaikan.

2. Memperbaiki artikel

Langkah berikutnya yang perlu dilakukan setelah membaca dan memahami catatan dari reviewer atau editor adalah memperbaiki artikel secara mandiri. Ini menunjukkan bahwa artikel yang ditolak bukan berarti sama sekali tidak layak untuk dipublikasikan. Sering kali, artikel tersebut hanya perlu diperbaiki kembali agar benar-benar layak untuk dipublikasikan.

Oleh karena itu, lakukanlah revisi secara teliti, detail, dan menyeluruh sesuai dengan catatan dari editor. Hal ini membantumu agar terhindar dari kesalahan yang sama ketika kembali mempublish artikel tersebut atau mencegah penolakan artikel yang baru di masa mendatang.

3. Membaca pedoman dari pengelola jurnal dengan cermat

Ketika mencari atau memilih jurnal untuk mempublikasikan artikel, jangan lupa baca pedoman dari pengelola jurnal dengan cermat dan teliti. Di dalam pedoman tersebut biasanya memuat penjelasan tentang struktur, format, dan unsur lainnya yang perlu dipatuhi oleh penulis.

Sebelum mempublish artikel, pastikan kamu membaca pedoman dari pengelola jurnal terlebih dahulu dan mengikuti isi di dalamnya. Setelah artikel dipastikan sudah sesuai dengan pedoman dan sudah melalui review mandiri, barulah kamu bisa mengirimkan artikel tersebut ke jurnal yang bersangkutan.

4. Memilih jurnal yang lain

Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya bahwa salah satu alasan kenapa artikel ditolak jurnal adalah bisa jadi karena tidak sesuainya ruang lingkup jurnal yang dipilih. Untuk itu, kamu bisa mencoba memilih jurnal lain yang sesuai dengan topik atau ruang lingkup pembahasan dalam artikelmu.

Jika jurnal ditolak pasca revisi, maka kamu bisa pertimbangkan untuk memilih jurnal lain dengan kualitas yang sama atau sedikit diturunkan.

Sebagai contoh, jika sebelumnya artikelmu ditolak oleh jurnal terindeks Scopus dengan peringkat Q2, maka untuk selanjutnya kamu bisa mengirimkan artikel ke jurnal terindeks Scopus dengan peringkat Q3 atau di bawahnya.

Dengan begitu, jurnal tersebut masih termasuk jurnal internasional dan bereputasi, tetapi proses peer review yang dilakukan tidak seketat jurnal yang sebelumnya sehingga peluang diterima pun lebih besar.

5. Melakukan review secara mandiri

Langkah berikutnya setelah memilih jurnal lain adalah melakukan review secara mandiri bersama penulis lainnya. Langkah ini dilakukan untuk memastikan artikel sudah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh jurnal dan meningkatkan peluang artikel diterima oleh jurnal yang lain.

6. Berkolaborasi dengan penulis yang memiliki H-indeks tinggi

Seperti yang sudah sempat dibahas sebelumnya bahwa salah satu penyebab artikel ditolak jurnal yaitu tidak memadainya rekam jejak penulis. Misalnya, dari segi H-indeks yang rendah sehingga menyebabkan kualitas artikel dan aspek lainnya menjadi menurun atau tidak sesuai sesuai standar.

Untuk mengatasinya, kamu bisa menjalin kolaborasi dengan penulis yang memiliki H-indeks tinggi. Melalui kolaborasi ini, kamu bisa mencegah penolakan artikel akibat rekam jejak penulis yang kurang memadai tadi.

Untuk bisa menemukan mitra penulis tersebut, kamu bisa memanfaatkan media sosial dan berbagai database jurnal nasional maupun internasional. Hal ini mampu memperkuat reputasi penulis dan artikel yang akan disubmit.

7. Menyiapkan dokumen pendukung

Terakhir, langkah yang perlu dilakukan jika artikel ditolak jurnal ialah mempersiapkan dokumen pendukung. Terutama jika alasan penolakan tersebut karena data-data yang disajikan dinilai kurang memadai.

Misalnya, data kurang kredibel, referensi kurang jelas dan lengkap, dan lain sebagainya. Maka ketika mengirimkan ulang artikel di jurnal yang lain, kamu bisa mempersiapkan dokumen pendukung yang lebih memadai. Misalnya berupa daftar referensi, surat pengantar, surat izin, atau lampiran lainnya yang mendukung.

Nah, itulah tadi 11 alasan kenapa artikel ditolak jurnal beserta solusi atau langkah yang perlu dilakukan jika artikel ditolak jurnal. Dengan memahami informasi di atas, harapannya kamu bisa lebih hati-hati dan cermat kembali sebelum mengirimkan artikel ke jurnal yang dipilih agar peluang diterima semakin besar. Semoga bermanfaat!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn