
Ketika melakukan bimbingan proposal skripsi, dosen pasti bertanya “Apa yang membedakan penelitianmu dengan kajian yang sudah ada?” atau “Apa kebaruan dari penelitian yang akan kamu laksanakan? Supaya bisa menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami apa itu research gap dan cara menemukannya.
Secara sederhana, kita dapat mengartikan research gap sebagai celah atau pertanyaan yang belum terjawab dari penelitian-penelitian sebelumnya. Kekosongan ini yang akan menjadi dasar dari studi yang akan dilakukan.
Daftar isi
ToggleApa itu Research Gap dan Cara Menemukannya
Melalui artikel ini, kita akan mengupas apa itu research gap, bagaimana cara menemukannya, serta jenis-jenis yang perlu dipahami. Yuk, langsung saja kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Apa itu Gap Research?
Research gap atau celah penelitian adalah ruang kosong dalam karya tulis ilmiah (KTI) yang menunjukkan adanya fenomena, masalah, maupun pertanyaan yang belum terjawab oleh penelitian terdahulu. Penyebabnya dapat berasal dari ketidaksesuaian hasil penelitian, keterbatasan metodologi, perkembangan zaman, hingga lokasi dan budaya penelitian yang berbeda.
Artikel yang sesuai:
Dalam ranah akademisi, keberadaan research gap sangatlah penting. Sebab, hal ini menjadi dasar utama bagi peneliti untuk melahirkan kebaruan atau novelty. Selain itu, peneliti juga bisa memastikan penelitian yang dilaksanakan tidak sekadar mengulang temuan lama.
Bagaimana Cara Menemukan Research Gap?
Berikut adalah beberapa cara menemukan research gap yang perlu dipahami, yaitu:
1. Analisis kesenjangan teoritis
Strategi ini bisa dilakukan dengan menilai kerangka teori pada penelitian terdahulu apakah masih mampu menjelaskan fenomena atau masalah yang sama atau tidak. Di sini, peneliti perlu membandingkan landasan berpikir lama dengan dinamika terbaru. Tujuannya adalah untuk menemukan potensi penggunaan teori yang lebih relevan.
2. Analisis kesenjangan konseptual (variabel)
Cara menemukan research gap yang kedua yaitu melakukan analisis kesenjangan konseptual atau variabel. Peneliti mesti mengidentifikasikan berbagai variabel kunci yang belum sempat dimasukkan dalam penelitian terdahulu.
Dengan perkembangan zaman, faktor yang memengaruhi suatu fenomena akan bertambah kompleks. Misalnya, teknologi internet yang berdampak pada pola asuh orang tua kepada anak. Dengan menampung variabel baru yang relevan kondisi saat ini, kerangka konsep penelitian menjadi semakin utuh.
3. Analisis kesenjangan melalui batasan publikasi
Tips yang bisa kita terapkan berikutnya yaitu dengan melihat batasan masalah yang peneliti sebelumnya cantumkan dalam publikasi ilmiah. Sebagai contoh, penelitian terdahulu hanya membatasi subjek pada siswa kelas X SMA, maka peneliti baru berpeluang untuk memperluas jangkauan informan atau populasi penelitian. Dengan begitu, temuan pada penelitian terbaru bisa mempunyai tingkat generalisasi yang lebih luas.
Jenis-Jenis Research Gap

Research gap (celah penelitian) mempunyai banyak jenis yang perlu diketahui, berikut adalah penjelasan selengkapnya.
1. Kesenjangan teoritis (theoretical gap)
Theoretical gap merupakan celah teoritis yang muncul saat kerangka teori penelitian terdahulu belum mampu menjelaskan suatu masalah secara optimal. Hal ini terjadi karena fakta di lapangan terus berkembang, tapi teori yang tersedia sudah tidak relevan.
Misalnya, perilaku konsumtif masa kini banyak dipengaruhi oleh review konten kreator di media sosial. Sementara itu, teori keputusan konsumen klasik berasumsi bahwa orang berbelanja karena ada kebutuhan yang harus dipenuhi.
2. Kesenjangan konseptual (conceptual gap)
Conceptual gap merupakan jenis research gap yang timbul akibat perbedaan pemaknaan terhadap suatu konsep, batasan, atau istilah yang dipakai dalam penelitian. Perbedaan definisi ini sering kali memicu kebingungan dalam memahami topik yang dikaji.
Contohnya, beberapa peneliti mengartikan istilah literasi digital sebagai kemahiran dalam mengoperasikan perangkat teknologi. Di sisi lain, ada peneliti yang memaknai istilah tersebut secara lebih luas yaitu kemampuan dalam memanfaatkan teknologi yang dibarengi pemikiran kritis.
3. Kesenjangan praktis (practical gap)
Practical gap adalah suatu celah dalam penelitian yang terjadi karena ketidaksesuaian antara teori ideal dengan realitas di lapangan yang mengharuskan adanya kajian lanjutan. Contohnya, hasil penelitian terdahulu menemukan fakta bahwa aplikasi gim edukasi sangat efektif dalam meningkatkan minat belajar. Namun, penerapannya di sekolah kerap kali terkendalam oleh koneksi internet yang tidak stabil.
4. Kesenjangan metodologis (methodological gap)
Celah penelitian ini berasal dari keterbatasan atau kelemahan metodologi yang digunakan pada penelitian terdahulu, sehingga hasilnya dinilai kurang komprehensif. Oleh karena itu, peneliti berikutnya perlu memperbaiki hal ini dengan memakai pendekatan atau cara yang lebih tepat.
Misalnya, penelitian motivasi belajar sebelumnya hanya mengandalkan angket tanpa wawancara langsung. Sehingga studi terbaru mesti melengkapi data tersebut lewat wawancara mendalam (in-depth interview) kepada siswa yang menjadi informan.
5. Kesenjangan empiris (empirical gap)
Empirical gap merupakan gagasan atau hipotesis yang belum didukung oleh bukti nyata dan fakta lapangan yang memadai di fenomena tertentu. Karena data empiris yang diperoleh sangat minim, peneliti belum bisa menarik kesimpulan secara pasti.
Contohnya, di luar negeri, metode project-based learning terbukti mampu meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Namun, bukti empiris terkait efektivitasnya di sekolah-sekolah Indonesia masih sangat kecil.
6. Kesenjangan historis (historical gap)
Historical gap timbul akibat penelitian sebelumnya yang dilakukan pada masa lalu sudah tidak relevan dengan konteks zaman sekarang. Kondisi sosial yang senantiasa berubah dari waktu ke waktu menuntut adanya pembaruan data.
Sebagai contoh, penelitian tahun 2016 menilai pembelajaran daring kurang efektif pada pelajar di Indonesia. Di tahun 2026, temuan tersebut harus dikaji ulang karena budaya dan fasilitas belajar digital saat ini telah berkembang pesat pasca pandemi Covid-19.
7. Kesenjangan kultural (cultural gap)
Cultural gap adalah perbedaan nilai budaya antara tempat atau kelompok penelitian sebelumnya dengan riset yang akan dilakukan.Temuan yang berlaku di suatu tatanan budaya belum tentu memberikan hasil yang sama di budaya lain.
Misalnya, hasil studi tentang perilaku pengguna transportasi publik modern di negara-negara maju tentu akan berbeda dengan penelitian yang dilakukan di negara-negara berkembang, terutama di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari aspek budaya mengantre, pemeliharaan fasilitas, hingga kebersihan di area stasiun.
8. Kesenjangan interdisipliner (interdisciplinary gap)
Interdisciplinary gap dapat terjadi karena tidak adanya integrasi antara dua atau lebih disiplin ilmu untuk membedah suatu permasalahan yang kompleks. Pendekatan tunggul umumnya tidak berhasil menangkap gambaran suatu fenomena secara utuh.
Sebagai contoh, penelitian mengenai pembelajaran daring hanya fokus pada keunggulan fiturnya (ilmu teknologi). Padahal, topik ini juga memerlukan sudut pandang ilmu lain seperti psikologi untuk mengukur motivasi dan sosiologi guna mendeskripsikan interaksi sosial siswa.
9. Kesenjangan geografis (geographical gap)
Geographical gap adalah celah geografis yang timbul akibat cakupan lokasi penelitian terdahulu masih sangat terbatas, sehingga hasilnya belum bisa digeneralisasi ke daerah lain yang memiliki karakteristik berbeda.
Misalnya, pemanfaatan teknologi Realitas Virtual dan Augmented (VR/AR) dalam pembelajaran bahasa Inggris terbukti sukses di negara maju. Namun, di negara berkembang yang infrastrukturnya masih minim, penerapan teknologi akan menghadapi banyak tantangan.
Nah, itulah uraian lengkap mengenai apa itu research gap, cara menemukannya, hingga jenis-jenisnya yang sudah kita pahami dengan saksama. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman terkait penelitian dan penulisan karya tulis ilmiah semakin bertambah, ya! Selamat belajar!





