10 Kesalahan Umum dalam Menyusun Buku Ajar yang Sering Dosen Lakukan

10 Kesalahan Umum dalam Menyusun Buku Ajar yang Sering Dosen Lakukan

Selain menerbitkan jurnal ilmiah, dosen juga memiliki tanggung jawab untuk menulis buku ajar sebagai upaya untuk mendukung proses perkuliahan sekaligus mengembangkan karier akademik. Namun sayang, menyusun buku ajar yang berkualitas dan mudah dipahami ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Banyak dosen, terutama yang belum memiliki pengalaman, terjebak dalam berbagai kesalahan teknis maupun substansial yang membuat naskah buku ajar mereka menjadi kurang maksimal. Kesalahan-kesalahan tersebut mulai dari tidak memiliki struktur yang sistematis hingga kurang maksimal dalam memilih referensi.

10 Kesalahan Umum dalam Menyusun Buku Ajar yang Sering Dosen Lakukan

Melalui artikel ini, kita akan mengupas satu per satu berbagai kesalahan umum dalam menyusun buku ajar yang biasanya dilakukan oleh dosen. Harapannya, setelah membaca informasi ini, teman-teman dosen bisa menghindarinya sejak awal dan mampu menghasilkan buku ajar yang berkualitas.

Penasaran apa saja kesalahan-kesalahan tersebut? Yuk, kita simak uraiannya berikut ini:

Apa itu Buku Ajar?

Buku ajar menurut pandangan Buckingham adalah media belajar yang dapat digunakan oleh peserta didik baik di sekolah atau perguruan tinggi untuk mendukung suatu program pengajaran.

Sementara itu, Suharjono menyatakan bahwa buku ajar merupakan buku yang dimanfaatkan sebagai buku pelajaran bidang studi tertentu. Disusun oleh orang-orang yang ahli di bidangnya dan sesuai standar yang berlaku, buku ajar berisi maksud serta tujuan instruksional.

Apa Saja Kriteria Buku Ajar yang Baik?

Menurut Tarigan, sebuah buku ajar dinilai ideal jika memenuhi berbagai kriteria di bawah ini:

  1. Relevan dengan kurikulum yang berlaku;
  2. Menarik minat baca peserta didik;
  3. Memotivasi peserta didik untuk selalu giat belajar;
  4. Menstimulasi atau merangsang aktivitas peserta didik;
  5. Ilustratif dan komunikatif;
  6. Mempertimbangkan aspek linguistik (bahasa);
  7. Menghargai perbedaan individu;
  8. Menghargai nilai yang berlaku di dalam masyarakat;
  9. Memiliki sudut pandang yang jelas;
  10. Dilengkapi dengan ilustrasi/gambar yang menarik dan relevan dengan isi materi.

Apa Saja Kesalahan yang Sering Dosen Lakukan Saat Menyusun Buku Ajar?

10 Kesalahan Umum dalam Menyusun Buku Ajar yang Sering Dosen Lakukan

Berikut adalah beberapa kesalahan umum yang sering dilakukan oleh dosen ketika menyusun buku ajar.

1. Copy-paste (menjiplak) slide perkuliahan

Kesalahan pertama yaitu dosen langsung copy-paste atau menyalin keseluruhan isi slide presentasi dalam naskah buku ajar. Walaupun slide tersebut mempunyai sumber yang kredibel dan disusun berdasarkan RPS, isi buku ajar memiliki aturan penyajian dan gaya bahasa yang berbeda.

Memasukkan slide presentasi ke dalam buku ajar hanya akan membuatnya terlalu ringkas dan dapat dianggap sebagai self-plagiarism. Oleh sebab itu, slide sebaiknya hanya menjadi bahan referensi tambahan, sedangkan isi buku harus ditulis ulang secara lebih detail dan jelas.

2. Struktur tidak disusun secara sistematis

Susunan pada buku ajar sering kali tidak berurutan atau sistematis. Padahal, syarat utama buku ajar yang baik adalah penyajian materi yang rapi dan teratur supaya peserta didik mampu memahami alur ilmu pengetahuan dengan mudah.

Namun, banyak dosen yang salah menentukan alur pembahasan, seperti meletakkan materi dasar yang seharusnya di awal justru di bab tenga. Walau tampak sepele, struktur buku yang berantakan akan membuat pembaca kebingungan saat mempelajari materinya.

3. Tidak menyesuaikan dengan prinsip pedagogis

Buku ajar tidak hanya harus disusun secara ilmiah, tetapi juga wajib dirancang dengan prinsip pedagogis, terutama menggunakan konsep Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK).

Melalui konsep ini, buku ajar hendaknya mengintegrasikan tiga unsur penting, yaitu:

  • Keahlian dosen dalam mengajar;
  • Penggunaan teknologi yang efektif bagi mahasiswa;
  • Teori atau materi yang diulas secara mendalam.

4. Kurang contoh dan studi kasus

Tidak memasukkan contoh nyata atau studi kasus dalam naskah buku ajar. Kedua aspek ini sangat penting untuk membantu mahasiswa memahami teori, khususnya yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dan pendekatan pembelajaran berbasis OBE yang menuntut mahasiswa untuk bisa menerapkan ilmu secara langsung.

5. Referensi yang sangat terbatas

Banyak dosen yang masih menggunakan sumber referensi yang kurang kuat atau kurang memadai saat menyusun buku ajar. Idealnya, referensi yang baik wajib memenuhi 3 syarat utama, yaitu:

  • Relevan dengan topik yang dibahas;
  • Terbitan terbaru (mutakhir);
  • Kredibel.

Namun, karena keterbatasan akses ke basis data jurnal atau karena topik yang dibahas masih jarang diteliti, dosen terpaksa menggunakan referensi yang tersedia meski tidak memenuhi standar penulisan ilmiah.

6. Tidak mencantumkan pencapaian pembelajaran

Sebuah buku ajar wajib dituliskan dengan jelas target atau pencapaian pembelajaran yang ingin dicapai peserta didik di akhir semester. Sayangnya, masih banyak dosen yang lupa atau sengaja melewatkan penentuan target belajar ini sejak proses awal penulisan.

Dampaknya, informasi penting mengenai tujuan belajar tidak tercantum dalam naskah. Secara substansial, naskah buku ajar tersebut dinilai kurang lengkap dan tidak memenuhi standar mutu yang berlaku.

7. Tidak melakukan editing naskah

Banyak dosen yang langsung melewatkan proses editing atau penyuntingan mandiri setelah selesai menyusun naskah buku ajar. Padahal, tahap ini bertujuan untuk memperbaiki tata bahasa dan ejaan, meningkatkan keterbacaan, menjaga konsistensi, serta memperkuat isi dan struktur naskah.

Dengan melakukan self-editing, kualitas buku ajar akan lebih optimal dan dosen bisa menghindari berbagai risiko terkait revisi oleh pihak penerbit.

8. Terlalu perfeksionis

Sebagian dosen punya sikap terlalu perfeksionis dan merasa naskah yang mereka buat sudah sempurna dan tidak membutuhkan perbaikan lagi. Sikap keras kepala ini membuat mereka malas memeriksa ulang tulisannya sendiri, dan bahkan mereka menolak melakukan revisi yang diminta oleh editor penerbit.

9. Menunggu waktu luang untuk menyusun buku ajar

Menunggu waktu senggang untuk menulis buku ajar merupakan alasan klasik yang membuat proyek ini menjadi telantar dan tidak pernah rampung. Di tengah kesibukan akademik yang padat, seharusnya dosen bisa meluangkan waktu atau membuat jadwal menulis yang teratur. Dengan memiliki komitmen kuat dan konsistensi untuk terus menjalankannya, buku ajar dosen tidak memerlukan waktu yang lama untuk terbit.

10. Menyerah dan berhenti di tahap revisi

Kesalahan terakhir yang sering terjadi adalah dosen memilih menyerah dan berhenti total saat naskah buku ajar memasuki tahap revisi. Selain merasa naskahnya tidak perlu ada yang diubah, hal ini juga dipicu karena dosen merasa kesulitan dalam melakukan revisi yang diminta oleh editor penerbit. Dengan demikian, naskah buku aja akan

Hal ini biasanya dipicu oleh dua alasan: merasa naskahnya sudah terlalu sempurna sehingga takut rusak jika diubah, atau merasa kesulitan dalam menangani perbaikan yang diminta oleh editor penerbit. Jika Anda mudah menyerah pada tahap ini, naskah buku terbuka tersebut akan selamanya mandek di meja redaksi dan tidak akan pernah bisa diterbitkan ke publik.

Bagaimana Cara Menghindari Kesalahan dalam Menyusun Buku Ajar?

Berikut merupakan tabel yang berisi penjelasan mengenai cara atau langkah ampuh yang bisa dosen terapkan demi menghindari kesalahan dalam menyusun buku ajar.

No

Langkah

Penjelasan

1Menyusun kerangka tulisan atau outline sejak awalMembuat kerangka buku di awal agar urutan bab rapi, logis, dan proses penulisan menjadi lebih cepat karena sudah ada panduan yang jelas.
2Menjelaskan materi secara sistematisMenulis materi secara berurutan dari bab awal hingga bab akhir tanpa melompat-lompat bertujuan agar pembahasan mengalir dan mudah dipahami.
3Menerapkan prinsip pedagogisPengetahuan tentang pendekatan pedagogis dapat diperoleh dengan cara rajin mengikuti workshop atau diskusi supaya materi yang disajikan dalam buku ajar sesuai dengan gaya belajar siswa.
4Menambahkan contoh dan studi kasusMenyertakan contoh nyata di lapangan dan elemen visual (grafik/ilustrasi) sehingga peserta didik mudah mengingat materi.
5Mengikuti pelatihan menulis buku ajarMengikuti pelatihan menulis secara konsisten untuk mengasah keterampilan literasi dan meningkatkan kualitas serta jumlah buku ajar yang diterbitkan.
6Memilih lembaga penerbit yang kredibelMenyerahkan naskah ke penerbit profesional yang berpengalaman agar buku diedit oleh ahlinya dan terhindar dari kesalahan sebelum dicetak.

FAQ Seputar Kesalahan Umum dalam Menyusun Buku Ajar

Berikut adalah beberapa pertanyaan sekaligus jawaban yang berkaitan tentang kesalahan umum dalam menyusun buku ajar yang sering dilakukan oleh dosen.

Q1: Apa perbedaan buku ajar dengan buku referensi?

Perbedaanya terletak pada tujuan dan target pembaca. Buku ajar ditulis untuk mahasiswa guna memenuhi mata kuliah tertentu RPS. Sementara itu, buku referensi berisi topik yang dibahas secara mendalam, fokus pada hasil penelitian, dan ditujukan untuk sesama peneliti atau dosen.

Q2: Apakah buku ajar perlu ISBN?

Sangat perlu, karena ISBN membuat buku ajar diakui keberadaannya secara resmi dan bisa  meningkatkan kredibilitas penulis/dosen. Selain itu, buku ajar dengan ISBN bisa masuk toko buku dan perpustakaan.

Q3: Bagaimana cara mengecek referensi agar tidak salah?

  • Pastikan jurnal atau referensi yang akan digunakan tidak terbit lebih dari 5 tahun yang lalu;
  • Menggunakan kurikulum terbaru;
  • Melakukan riset perihal apa yang sedang dibutuhkan industri saat ini;
  • Berkonsultasi dengan para ahli (dosen atau mentor tepercaya);
  • Menambah sitasi agar semakin kredibel.

Demikianlah, penjelasan mengenai sepuluh kesalahan umum yang sering dosen lakukan saat menyusun buku ajar. Semoga setelah membaca artikel ini, wawasan dan pengetahuan teman-teman tentang buku ajar semakin bertambah, ya! Terus berkarya dan tetap semangat!

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn