
Bagi seorang dosen, publikasi ilmiah bukan hanya merupakan tugas wajibnya dalam dunia akademik. Publikasi ilmiah juga menjadi jalan bagi dosen untuk meningkatkan kariernya di dunia akademik.
Publikasi dengan cara mengubah KTI menjadi buku bisa menghasilkan angka kredit poin yang cukup tinggi. Yang mana, angka kredit poin ini bisa digunakan untuk pengajuan kenaikan jabatan dosen ketika sudah mencapai jumlah yang ditentukan.
Daftar isi
Toggle7 Kesalahan dalam Mengubah KTI Menjadi Buku beserta Cara Mengatasinya
Namun, menerbitkan buku dari hasil konversi KTI (Karya Tulis Ilmiah) tentu bukan hal yang mudah. Kesalahan-kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku sering kali membuat isi buku sulit dipahami oleh khalayak umum.
Artikel yang sesuai:
Maka, penting bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti untuk memahami kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku agar proses konversi KTI menjadi lebih mudah dan isinya dapat dipahami oleh masyarakat luas. Nah, apa saja kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku? Berikut pembahasan selengkapnya!
Perbedaan KTI (Karya Tulis Ilmiah) dan Buku
KTI dan buku merupakan dua jenis karya tulis yang berbeda. Perbedaan ini penting untuk dipahami terlebih dahulu sebelum kamu memulai proses konversi KTI-mu menjadi buku. Apa saja perbedaannya?
Perbedaan antara KTI dan buku dapat dilihat dari segi karakteristik keduanya. KTI biasanya ditujukan untuk memenuhi tugas akademik sehingga bahasa penulisan yang digunakan cenderung kaku, formal, dan menyesuaikan format serta struktur yang ditentukan oleh pihak kampus.
KTI juga disusun secara sistematis sesuai struktur yang ditentukan, mulai dari pendahuluan, landasan teori, metodologi penelitian, hingga hasil dan pembahasan.
Sementara itu, buku ilmiah tidak hanya ditujukan untuk kalangan akademisi saja, tetapi juga masyarakat umum. Itulah mengapa untuk mengubah KTI menjadi buku diperlukan keahlian dalam mengubah kata-kata yang terkesan formal atau kaku menjadi lebih fleksibel agar mudah dimengerti oleh pembaca umum.
Oleh sebab itu juga KTI tidak dapat diubah begitu saja menjadi sebuah buku. Diperlukan beberapa penyesuaian pada bahasa dan format penulisan agar pembaca dari kalangan non akademisi bisa memahami isi buku dengan baik.
Kesalahan dalam Mengubah KTI Menjadi Buku

Mengkonversi KTI menjadi buku bukanlah hal yang mudah. Melakukan satu atau lebih kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku bisa mengakibatkan buku tidak menarik dan sulit dipahami oleh pembaca . Agar tidak terjadi demikian, yuk ketahui tujuh kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku beserta cara mengatasinya berikut ini!
1. Tidak mengubah bahasa yang digunakan
Bahasa yang digunakan dalam KTI seperti skripsi, tesis, dan disertasi cenderung kaku dan baku atau formal karena disesuaikan untuk kebutuhan akademik. Yang mana jika ingin diubah menjadi buku, maka bahasa yang digunakan juga perlu diubah.
Hal tersebut dikarenakan ketika KTI sudah menjadi buku, maka target pembacanya bukan lagi kalangan akademisi, melainkan pembaca umum.
Mengubahnya ke dalam bahasa yang lebih sederhana dengan mengurangi atau menghilangkan istilah-istilah akademik yang sulit dipahami pembaca umum merupakan kunci agar buku menjadi lebih mudah mereka pahami. Dengan begitu, dampak atau manfaat KTI yang kamu susun bisa dirasakan oleh lebih banyak pembaca.
Selain itu ketika bahasa yang kaku dan formal dalam KTI tetap dipertahankan dalam buku, maka buku tersebut bisa jadi terasa berat dan kurang menarik bagi pembaca.
2. Kurang maksimal dalam mengubah kalimat
Mengubah kalimat tanpa mengubah makna aslinya atau disebut parafrase merupakan langkah penting dalam mengubah KTI menjadi buku. Dengan memparafrase kalimat, kamu bisa mengurangi tingkat self plagiarisme dalam buku hasil konversi KTI.
Apa itu self plagiarisme? Self plagiarisme merupakan tindakan menggunakan kembali karya sendiri yang sebelumnya sudah pernah diterbitkan atau dipublikasikan tanpa merujuk karya aslinya.
Meski meniru atau memplagiat karya sendiri, hal ini tetap dianggap melanggar etika penulisan akademik. Di mana pembaca seolah-olah ditipu bahwa karya tersebut merupakan karya orisinil atau baru.
Nah, naskah buku hasil konversi KTI yang masih mirip dengan naskah aslinya tentu berpotensi menimbulkan tingginya tingkat self plagiarisme.
Untuk itulah, kamu perlu melakukan teknik parafrase yang cukup. Misalnya dengan mengubah kalimat-kalimat panjang menjadi lebih pendek tanpa mengubah makna sebenarnya, menyusun kembali cara penyampaiannya agar lebih sederhana dan mudah dimengerti tanpa menghilangkan hakikat penelitian.
3. Menyertakan terlalu banyak data teknis
KTI pada umumnya banyak menyertakan data-data penelitian, baik dalam bentuk tabel, grafik, diagram, maupun berupa perhitungan-perhitungan tertentu yang terkadang nampak rumit.
Dalam KTI, data-data tersebut memang wajib ditampilkan sebagai bukti ilmiah bahwa hasil penelitian diperoleh berdasarkan pada data valid di lapangan dan peneliti memang benar-benar telah melakukan penelitian.
Namun di dalam buku, menampilkan data-data yang terlalu banyak bisa membuat pembaca merasa jenuh dan mudah lelah saat membacanya.
Dibandingkan dalam bentuk data-data visual atau perhitung-perhitungan yang rumit, penjelasan yang disajikan dalam bentuk konsep atau makna dari hasil penelitian akan lebih menarik bagi pembaca umum dan mudah mereka pahami dengan lebih baik.
Maka, penting bagimu agar memilih data yang benar-benar penting untuk disertakan di dalam buku. Selain itu, sederhanakanlah data-data yang terlalu teknis ke dalam bentuk narasi atau paragraf-paragraf karena lebih mudah dipahami dan disukai oleh pembaca umum.
4. Tidak menyesuaikan struktur penulisan buku
Kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku berikutnya yaitu tidak menyesuaikan dengan struktur buku. Struktur KTI dan buku tentunya berbeda. Di mana struktur KTI biasanya lebih formal dan menyesuaikan standar akademik, yakni memuat bab 1 atau pendahuluan, tinjauan pustaka, metodologi penelitian, hasil dan pembahasan, serta penutup.
Nantinya, buku akan terlihat seperti laporan penelitian ketika tetap menggunakan struktur KTI. Untuk menghindarinya, menyusun ulang struktur kalimat merupakan langkah yang tepat.
Cara lainnya untuk mengatasi hal tersebut yaitu meringkas pembahasan yang bersifat teknis. Ada baiknya, pembahasan juga difokuskan pada materi yang benar-benar penting, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca.
5. Pembahasan tidak dikembangkan atau diperdalam
Pembahasan yang tidak diperdalam atau dikembangkan juga menjadi salah satu kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku yang perlu dihindari oleh mahasiswa, dosen, maupun peneliti.
Hal ini dikarenakan buku sudah seharusnya menjadi media yang efektif bagi pembaca untuk memperoleh nilai lebih berupa pembahasan yang lebih lengkap, detail, dan mendalam.
Nah, ketika mengubah skripsi, tesis, atau disertasi menjadi buku, maka hal ini bisa menjadi peluang bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti untuk memperkaya pembahasan mengenai topik penelitiannya.
Misalnya dengan menyertakan ilustrasi, studi kasus, atau penjelasan yang lebih lengkap. Dengan pembahasan yang lebih mendalam, wawasan pembaca juga akan semakin bertambah dan buku pun terasa lebih menarik untuk dibaca.
6. Menghiraukan alur pembahasan
Alur pembahasan yang runtut dan sistematis merupakan salah satu ciri buku yang baik. Hal ini bisa membantu pembaca untuk memahami maksud informasi yang disampaikan di dalam buku, mulai dari informasi dasar hingga informasi yang lebih kompleks.
Menghiraukan alur pembahasan yang runtut dan sistematis dalam mengubah KTI menjadi buku tentu bisa berdampak pada berkurangnya tingkat pemahaman pembaca. Sebab, alur pembahasan yang tidak runtut sering kali mengakibatkan pembahasan menjadi terpotong-potong dan membingungkan.
Untuk mengatasinya, penulis perlu menyusun ulang alur pembahasan secara runtut dan sistematis. Penulis disarankan untuk menggunakan subjudul yang jelas guna mempermudah pembaca dalam memahami isi buku.
7. Editing naskah kurang maksimal
Kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku yang terakhir dan sering kali dilakukan adalah proses editing yang kurang maksimal. Padahal, editing merupakan tahapan penting untuk meningkatkan kualitas naskah buku secara keseluruhan.
Melalui proses editing, penulis bisa melakukan perbaikan pada aspek tata bahasa seperti struktur kalimat yang kurang tepat, kalimat tidak efektif dan masih terkesan kaku, serta memastikan keseluruhan isi buku sudah tersusun dengan baik sehingga enak dibaca dan layak diterbitkan.
Nah, itulah tadi tujuh kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku yang perlu dihindari oleh penulis. Mengubah KTI menjadi buku menjadi langkah penting bagi mahasiswa, dosen, maupun peneliti untuk memperluas dampak penelitiannya. Tidak hanya ditujukan untuk dipahami oleh kalangan akademisi saja, tetapi juga pembaca secara umum.
Bagi dosen, mengubah KTI menjadi buku juga bisa menjadi jalan untuk meningkatkan angka kredit poin guna mengajukan kenaikan pangkat akademik. Dengan mengetahui kesalahan-kesalahan dalam mengubah KTI menjadi buku, semoga proses penerbitan bukumu berjalan lancar!





