
Melakukan publikasi ilmiah merupakan salah satu kegiatan penting bagi dosen dalam dunia akademik. Publikasi ilmiah ini perlu melalui proses yang panjang dan penuh tantangan. Maka tak heran, kesalahan umum dalam publikasi ilmiah sering kali terjadi.
Kesalahan tersebut tentu perlu dipahami oleh setiap dosen untuk dijadikan pembelajaran. Selain itu juga agar dapat mencegah artikel ilmiahnya ditolak oleh jurnal karena melakukan salah satu atau beberapa kesalahan tadi.
Daftar isi
Toggle9 Kesalahan Umum dalam Publikasi Ilmiah yang Perlu Dihindari Dosen
Nah, apa saja kesalahan umum dalam publikasi ilmiah yang perlu dihindari dosen? Artikel ini akan membahas secara lengkap beserta cara menghindarinya. Mari simak hingga akhir informasi berikut!
Artikel yang sesuai:
Apa Itu Publikasi Ilmiah?
Publikasi ilmiah adalah proses pengumuman atau penyebarluasan hasil penelitian atau kajian terhadap bidang keilmuan tertentu melalui media resmi seperti jurnal ilmiah, buku akademik, ataupun prosiding.
Publikasi ilmiah juga dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mentransfer ilmu pengetahuan berdasarkan hasil kajian atau penelitian kepada masyarakat luas.
Melalui publikasi ilmiah, temuan penting yang diperoleh dosen, mahasiswa, maupun peneliti tidak hanya bisa diakses oleh kalangan akademisi saja. Masyarakat umum yang membutuhkan referensi untuk kebutuhan penelitian mereka, menyelesaikan masalah, atau keperluan lainnya juga bisa mengakses temuan atau pengetahuan tersebut.
Kesalahan Umum dalam Publikasi Ilmiah
Nah, setelah memahami apa itu publikasi ilmiah, berikut terdapat sembilan kesalahan umum dalam publikasi ilmiah yang sering kali terjadi dan perlu dihindari oleh dosen:
1. Tidak tepat dalam menentukan topik penelitian
Ketidaktepatan dalam memilih topik penelitian merupakan kesalahan umum yang bisa memicu ditolaknya artikel oleh jurnal. Sebagai contoh, memilih jurnal yang tidak sesuai dengan keahlian dosen atau tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Kedua hal tersebut bisa membuat reviewer menilai bahwa penelitian yang dilakukan tidak berdampak dan tidak memiliki urgensi yang tinggi untuk dilaksanakan. Dengan begitu, artikel ilmiah dosen yang submit akan dianggap belum layak terbit.
2. Struktur penulisan artikel ilmiah yang tidak tepat
Struktur penulisan artikel ilmiah memang sudah memiliki standar, yakni sesuai dengan format IMRaD. Namun, ada pula jurnal yang menambahkan kebijakan berupa adanya format khusus dalam penulisan artikel ilmiah yang dikirimkan.
Inilah mengapa penting bagi setiap dosen agar memilih jurnal yang hendak dituju terlebih dahulu, baru kemudian menulis artikel sesuai format yang berlaku di jurnal tersebut. Dengan begitu, peluang artikel lolos publikasi akan lebih besar.
3. Jurnal yang dituju tidak tepat
Setiap jurnal memiliki scope atau ruang lingkup bidang keilmuan yang berbeda-beda untuk artikel mereka yang diterbitkan. Jika artikel yang dikirimkan oleh dosen tidak sesuai dengan ruang lingkup atau ketentuan keilmuan jurnal yang dipilih, maka kemungkinan besar artikel tersebut akan ditolak.
Jadi, tidak semua artikel ilmiah yang ditolak disebabkan karena kualitasnya yang buruk. Bisa jadi, jurnal yang dituju tidak tepat atau tidak sesuai dengan bidang keilmuan yang diangkat di dalam artikel.
4. Rendahnya keterbacaan artikel ilmiah
Kesalahan umum dalam publikasi ilmiah lainnya adalah tingkat keterbacaan artikel yang rendah. Hal ini biasanya disebabkan karena tata bahasa yang buruk dalam menulis artikel.
Misalnya, masih ada banyak kesalahan penempatan tanda baca dan struktur kalimat, minimnya perbendaharaan kosakata penulis, hingga kurangnya kemampuan menulis dalam bahasa Inggris. Kesalahan-kesalahan ini menyebabkan kualitas artikel menurun sehingga berpotensi mengalami penolakan.
5. Unsur substansi atau isi artikel yang lemah
Unsur substansi atau isi artikel juga menjadi salah satu poin penting yang dapat menentukan lolos atau tidaknya artikel ilmiah untuk dipublikasikan. Substansi atau isi artikel yang lemah dapat dilihat dari aspek-aspek berikut:
Abstrak yang tidak sesuai ketentuan
Abstrak yang tidak memuat rangkuman penelitian, terlalu singkat, tidak informatif, atau tidak dapat merepresentasikan isi artikel bisa menandakan lemahnya substansi artikel sehingga perlu diperbaiki. Abstrak yang baik harus memuat tujuan, metode, hasil, dan simpulan penelitian dengan jelas dan ringkas.
Metode penelitian tidak jelas
Metode penelitian yang tidak jelas menyebabkan penelitian juga menjadi terkesan tidak jelas sehingga artikel ilmiah menjadi tidak layak untuk diterbitkan.
Tidak mengandung unsur kebaruan
Tidak mengandung unsur kebaruan berarti penelitian tersebut sudah pernah ada sebelumnya. Padahal, penelitian yang hendak dilakukan harus memiliki pembeda dengan penelitian terdahulu. Ini bertujuan agar penelitian tersebut mampu menghasilkan pengetahuan baru yang bermanfaat.
6. Melanggar etika publikasi ilmiah
Etika publikasi ilmiah di jurnal nasional sudah diatur oleh BRIN. Selain itu, pihak pengelola jurnal juga sering kali memberikan tambahan terkait etika publikasi ilmiah di jurnal mereka.
Contoh bentuk pelanggaran etika publikasi ilmiah yang umum dilakukan antara lain plagiarisme baik secara sengaja maupun tidak, serta pemalsuan data atau falsifikasi. Setiap artikel yang memuat konten plagiat dapat diketahui melalui alat pendeteksi plagiat yang dimiliki oleh setiap pengelola jurnal.
7. Tidak mematuhi pedoman penulisan
Kesalahan umum dalam publikasi ilmiah juga sering kali menyangkut ketidakpatuhan dosen terhadap pedoman penulisan artikel. Padahal, hal ini turut menentukan lolos atau tidaknya artikel di jurnal yang dituju.
Format penulisan yang salah, referensi yang tidak sesuai, atau jumlah kata yang melebihi ketentuan dapat menyebabkan ditolaknya artikel oleh jurnal. Inilah mengapa penting bagi dosen untuk membaca pedoman penulisan artikel dari jurnal yang dituju dengan seksama terlebih dahulu.
8. Data dan analisis kurang lengkap
Kelengkapan data dan hasil analisis merupakan aspek penting dalam menyusun artikel ilmiah untuk dipublikasikan. Penyajian data dan analisis yang kurang lengkap bisa membuat reviewer ragu terhadap kevalidan penelitian.
9. Menghiraukan feedback dari reviewer
Feedback dari reviewer merupakan aset yang berharga untuk meningkatkan kualitas artikel. Maka, sudah sepatutnya bagi dosen, mahasiswa, maupun peneliti yang melakukan publikasi ilmiah agar menanggapi setiap masukan yang diberikan oleh reviewer dengan sopan.
Cara Menghindari Kesalahan Umum dalam Publikasi Ilmiah

Setelah mempelajari pengertian dan kesalahan umum dalam publikasi ilmiah, maka selanjutnya kamu juga perlu memahami cara menghindari kesalahan-kesalahan tersebut agar artikel ilmiah yang kamu susun bisa lolos untuk dipublikasikan. Di bawah ini beberapa cara yang bisa kamu lakukan:
1. Mempelajari dan memahami pedoman penulisan
Sebelum mulai menulis artikel ilmiah, pastikan kamu sudah memilih jurnal yang memiliki ruang lingkup sesuai dengan topik penelitianmu. Kemudian, pelajari dan pahami dengan seksama pedoman penulisan yang berlaku di jurnal tersebut.
Setiap pengelola jurnal biasanya memiliki template artikel yang berbeda-beda. Maka, gunakanlah template yang ada, serta patuhi jika ada masukan atau feedback dari reviewer.
2. Mempelajari proses publikasi ilmiah
Publikasi ilmiah merupakan proses yang panjang dan penuh tantangan. Mulai dari menulis, mensubmit ke jurnal, peninjauan oleh editor, peer review, hingga pemublikasian artikel ilmiah.
Setiap tahapan tersebut memiliki ketentuan yang diberlakukan oleh masing-masing jurnal yang dituju. Agar terhindar dari kesalahan umum dalam publikasi ilmiah, salah satunya terkait struktur penulisan yang tidak tepat atau kesalahan lainnya, maka mempelajari proses publikasi ilmiah menjadi langkah penting yang dapat memengaruhi kelancaran proses publikasi artikel ilmiahmu.
3. Kolaborasi dengan sesama dosen atau peneliti
Cara lainnya untuk menghindari kesalahan umum dalam publikasi ilmiah yakni menjalin kolaborasi dengan sesama dosen atau peneliti. Melalui kolaborasi ini, persiapan dan korespondensi akan lebih ringan dan cepat karena ditanggung bersama-sama.
4. Mengikuti pelatihan penulisan artikel ilmiah
Mengikuti pelatihan penulisan artikel ilmiah menjadi cara yang efektif untuk memperdalam pemahaman tentang tata bahasa yang baik. Mulai dari penulisan ejaan, kalimat efektif, hingga penempatan tanda baca yang tepat.
Mempelajari tentang tata bahasa merupakan langkah penting untuk membantu meningkatkan keterbacaan artikel ilmiah yang kamu susun. Kamu juga bisa mempertimbangkan untuk menggunakan jasa proofreading naskah untuk membantu mengoreksi kesalahan penulisan dalam artikel ilmiahmu agar benar-benar layak untuk diterbitkan.
5. Merencanakan penelitian secara matang
Terakhir, buatlah rencana penelitian untuk meminimalisir adanya kesalahan dalam proses publikasi ilmiah yang kamu lakukan. Perencanaan penelitian yang matang membuat jalannya penelitian lebih terstruktur, hasilnya berkualitas, terukur, dan mudah diraih.
Selain itu, adanya perencanaan penelitian juga memungkinkan data yang diperoleh lebih lengkap dan valid. Data-data tersebut pun dapat dianalisis menggunakan metode yang tepat sehingga memperoleh hasil penelitian yang akurat.
Demikian sembilan kesalahan umum dalam publikasi ilmiah yang perlu dipahami oleh dosen, mahasiswa, maupun peneliti, serta cara-cara yang bisa dilakukan untuk menghindarinya.
Dengan memahami informasi ini, harapannya kamu bisa menyusun artikel ilmiah dengan lebih terencana dan terhindar dari kesalahan-kesalahan di atas yang bisa menyebabkan proses publikasi ilmiahmu terhambat. Semoga bermanfaat dan artikel ilmiah kamu bisa segera terbit!





