7 Cara Menentukan Diksi dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah)

7 Cara Menentukan Diksi dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah)

Sejak masuk ke dunia perkuliahan, mahasiswa dihadapkan pada berbagai jenis tugas dan tantangan akademis yang membutuhkan kemampuan menulis yang baik. Salah satu jenis tugas yang sering mahasiswa kerjakan yaitu menyusun karya tulis ilmiah (KTI), mulai dari esai, makalah, jurnal, hingga skripsi.

Menulis KTI tidak seperti menulis caption di media sosial. Kita harus memilih diksi atau kata-kata yang tepat dan sesuai dengan topik yang dibahas dalam artikel ilmiah. Jangan sampai kita menggunakan gaya bahasa sehari-hari yang terlalu santai karena dapat mengurangi kredibilitas tulisan yang kita buat.

7 Cara Menentukan Diksi dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah)

Melalui artikel ini, kita akan mempelajari secara lebih mendalam perihal beberapa cara menentukan diksi dalam menyusun KTI dengan baik dan benar. Harapannya, setelah membaca keseluruhan tulisan ini, teman-teman mahasiswa dapat lebih memahami bagaimana memilih kata agar argumen dalam KTI menjadi lebih kuat, profesional, dan mudah dipahami oleh pembaca, termasuk dosen.

Penasaran apa saja cara-caranya? Yuk, langsung saja kita simak penjelasan lengkapnya di bawah ini:

1. Menggunakan Bahasa Formal, Bukan Bahasa Sehari-hari

Saat menyusun karya tulis ilmiah (KTI), hal pertama yang harus kita perhatikan yaitu pemilihan diksi atau kata. Kita perlu menghindari penggunaan istilah atau frasa yang biasa kita pakai ketika mengobrol dengan teman sebaya atau bahasa sehari-hari yang bersifat informal. Bahasa yang kita gunakan dalam karya ilmiah harus formal sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku agar terlihat profesional.

Kita dapat membayangkan berbicara dengan orang tua di rumah, orang yang lebih tua di lingkungan tempat tinggal, guru di sekolah, atau dosen di kampus. Penggunaan diksi yang baku dan struktur yang sistematis menunjukkan bahwa tugas atau penelitian tersebut dikerjakan dengan sangat serius. Dengan menjaga gaya bahasa tetap formal, karya ilmiah yang kita hasilkan memiliki standar kualitas yang layak untuk publikasi akademik.

2. Fokus pada Fakta dan Data, Bukan Opini Subjektif

Dalam menyusun karya tulis ilmiah, setiap kalimat yang kita rangkai harus bersifat objektif (faktual dan tidak bias). Hal ini berarti bahwa apa yang kita tulis harus berdasarkan data dan realita di lapangan, bukan sekadar opini atau pandangan pribadi yang sifatnya subjektif. Pilihan kata yang kita mampu harus mampu menunjukkan hasil penelitian secara netral tanpa adanya penilaian pribadi.

Apabila kita ingin menyampaikan sebuah pendapat, pastikan sudah didukung oleh bukti atau data yang relevan dan jelas. Misalnya, ketimbang menyebut bahwa hasil penelitian “sangat luar biasa”, lebih baik kita mengatakan bahwa “hasil analisis menunjukkan adanya peningkatan sebesar 30%”. Dengan cara ini, pembaca akan lebih percaya karena informasi yang kita sajikan sudah terukur dan bisa dipertanggungjawabkan.

3. Menggunakan Kalimat Pasif untuk Menunjukkan Hasil

Strategi efektif untuk membuat tulisan terasa lebih ilmiah selanjutnya adalah dengan mengubah kalimat aktif yang terdapat penekanan subjek (seperti “saya” atau “kami”) menjadi kalimat pasif. Dalam dunia riset dan akademik, aspek yang lebih penting adalah proses serta hasil penelitiannya, bukan siapa yang mengerjakannya. Hal ini juga membantu karya ilmiah kita menjadi lebih fokus pada permasalahan yang sedang diteliti.

Contohnya, daripada menulis “Saya sudah mewawancarai dua belas informan”, kita dapat mengubahnya menjadi “Wawancara dilakukan terhadap dua belas informan.” Pemakaian sudut pandang ketiga atau kalimat pasif seperti ini membuat artikel lebih terlihat objektif, bersahaja, dan sesuai dengan standar penulisan jurnal internasional.

4. Pastikan Makna Diksi Jelas dan Tidak Ambigu

7 Cara Menentukan Diksi dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah)

Salah satu tantangan dalam menulis karya ilmiah yaitu menghindari kata-kata yang bermakna ganda atau ambigu. Berbagai frasa yang bersifat samar seperti “sebagian besar” atau “cukup banyak” terkadang membuat pembaca kebingungan. Dalam karya tulis ilmiah (KTI), kejelasan makna dalam setiap diksi merupakan kunci agar tidak terjadi kesalahan tafsir.

Kita dapat menyelesaikan masalah ini dengan mengganti diksi atau frasa yang maknanya kurang tajam dengan data yang lebih spesifik. Contohnya, jangan menyatakan hasil dengan kalimat “banyak responden yang tidak setuju dengan aturan tersebut”, lebih baik kita menuliskan angka pastinya, seperti “69% responden menyatakan tidak setuju dengan kebijakan tersebut”. Dengan memberikan informasi yang detail dan akurat, karya ilmiah kita lebih meyakinkan dan mudah dicerna oleh pembaca dari berbagai kalangan.

5. Memakai Istilah Teknis yang Sesuai Bidang Keilmuan

Cara menentukan diksi dalam KTI yang tepat selanjutnya yaitu dengan menggunakan istilah-istilah teknis yang sering dipakai dalam bidang ilmu yang kita pelajari. Penggunaan istilah khusus ini menunjukkan bahwa kita memang memahami materi dan budaya komunikasi di lingkungan akademis. Hal ini juga membuat tulisan kita lebih berbobot, kredibel, dan berkualitas.

Sebagai contoh, kita bisa memakai frasa “transformasi sosial” dibandingkan “perubahan sosial”. Kita juga bisa menggunakan kata “hipotesis” untuk menyalin kata “asumsi/dugaan”. Namun, kita juga harus memastikan bahwa penerapan istilah-istilah ini sudah tepat sasaran dan tidak berlebihan. Mengaplikasikan diksi atau kata yang pas sesuai tempatnya membuat pembaca merasa sedang mengkaji suatu disiplin ilmu secara mendalam dan profesional.

6. Hindari Gaya Bahasa Ekspresif atau Retoris

Karya tulis ilmiah bukan ruang untuk bersajak atau menulis dengan gaya bahasa yang tegas dan mengandung emosi (retoris) yang biasa terdapat dalam puisi. Oleh karena itu, kita perlu menghindari diksi yang maknanya terlalu berlebihan atau menunjukkan penilaian yang subjektif. Lebih baik kita fokus pada penyampaian informasi secara jujur dan sesuai dengan data yang kita temukan di lapangan.

Penggunaan bahasa yang terlampau ekspresif dan emosional juga akan mengurangi nilai objektivitas penelitian atau karya ilmiah kita. Sebaiknya kita memilih diksi yang berirama tenang namun tetap lugas untuk menjelaskan setiap poin dan temuan yang kita peroleh.

7. Gunakan Referensi yang Terpercaya untuk Memperkuat Tulisan

Pemilihan diksi yang baik dalam penyusunan karya tulis ilmiah harus diiringi dengan referensi atau sumber data yang valid. Hal ini bertujuan agar pendapat dan argumen yang kita sampaikan lewat tulisan tidak terlihat lemah.

Jika kita mengutip pernyataan, data, atau istilah tertentu, pastikan berlandaskan pada rujukan yang kredibel seperti jurnal ataupun buku yang sudah teruji. Semakin rimbun bacaan berkualitas yang kita jadikan rujukan, semakin kita mudah menemukan diksi atau kata-kata yang tepat.

Mengintegrasikan pemilihan diksi yang formal dengan referensi yang jelas, kita akan menghasilkan sebuah tulisan yang tidak hanya relevan, tapi juga efektif serta profesional. Pembaca tidak hanya akan mengerti apa yang kita sampaikan, tapi juga akan merasa yakin bahwa karya ilmiah yang kita tulis dihasilkan dari proses penelitian yang teliti dan disiplin.

Nah, itulah penjelasan mengenai cara menentukan diksi dalam karya tulis ilmiah dengan baik dan benar. Semoga setelah membaca artikel ini, teman-teman mahasiswa tidak lagi kebingungan dalam memilih kata yang tepat. Selalu ingat bahwa KTI yang berkualitas tidak dilihat dari penggunaan bahasa yang rumit, melainkan dari pemilihan kata yang akurat dan mudah dimengerti oleh pembacanya.

WhatsApp
Facebook
Twitter
LinkedIn